Rabu, 30 Januari 2013

Makalah Manajemen Ternak Sapi Perah


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sapi perah merupakan golongan hewan ternak ruminansia yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan bergizi tinggi yaitu susu. Pemeliharaan sapi perah beberapa tahun terakhir ini menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini senantiasa di dorong oleh pemerintah agar swasembada susu tercapai secepatnya. Untuk memenuhi kebutuhan susu secara nasional, perkembangan sapi perah perlu mendapat pembinaan yang lebih terencana sehingga hasilnya akan meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut akan dapat terlaksana apabila peternak sapi perah dan orang yang terkait dengan pemeliharaan sapi perah bersedia melengkapi diri dengan pengetahuan tentang pemeliharaan sapi perah.
Dalam meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi sapi perah, ada beberapa faktor penting yang harus di terapkan secara profesional yaitu perlunya penanganan manajemen pemeliharaan sapi perah yang baik. Karena hal tersebut mempunyai peran penting dalam peningkatan kualitas produk susu sapi perah. Salah satu aspek yang mempunyai pengaruh penting terhadap peningkatan produksi susu sapi adalah pemeliharaan atau penanganan sapi perah masa kering kandang.
Masa kering kering pada sapi perah dilakukan pada waktu kira-kira delapan minggu sapi menjelang melahirkan anaknya. Pada masa ini pemerehan di hentikan total dengan tujuan memberi kesempatan sapi untuk beristirahat serta mengoptimalkan peran pakan ternak meningkatkan bobot yang ideal dan tepat untuk perkembangan janin bukan untuk produksi susu. Dengan adanya penanganan pemeliharaan sapi perah masa kering yang baik ini di harapkan juga menghasilkan bibit sapi perah yang unggul sehingga kebutuhan akan swasembada susu di Indonesia segera terpanuhi.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana pemeliharaan sapi perah masa kering sebelum melahirkan  ?
2.      Bagaimanakah pemeliharaan sapi perah masa kering setelah melahirkan  ?

C.    Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Menjelaskan prosedur pemeliharaan sapi perah masa kering sebelum melahirkan.
2.      Menjelaskan prosedur pemeliharaan sapi perah masa kering sesudah melahirkan.






BAB II
PEMELIHARAAN SAPI PERAH MASA KERING

A.    Tinjauan Umum Pemeliharaan Sapi Perah
Sebagai ternak ruminansia yang menghasilkan susu, sapi perah merupakan komoditi ternak yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam peningkatan kualitas serta kuantitas produksinya. Dalam pemeliharaannya, ada beberapa faktor yang mempunyai pengaruh penting terhadap hasil produksi sapi tersebut, diantaranya suhu, kondisi kandang, sanitisi kandang, kebutuhan pakan, kelembaban, dan kondisi lingkungan sekitar. Pada dasarnya secara umum pemeliharaan sapi perah meliputi pemeliharaan sapi dara dan bunting, pemeliharaan sapi laktasi, pemeliharaan sapi kering kandang, dan pemeliharaan pedet (Blakely dan Bade, 1998).
Sapi memerlukan pemeliharaan badan khusus, antara lain ; a) daki, lapisan kulit paling atas adalah lapisan kulit mati sehingga kulit akan mengeluarkan peluh yang bercampur bau hingga kulit kotor oleh daki.    b) kotoran, sapi akan membuang kotoran setiap waktu dan akan berbaring di tempat tersebut maka kotoran harus di bersihkan. Selanjutnya untuk perwatan kulit bisa dilakukan dengan cara memandikan dan menyikat kulit sapi tersebut dan kalau ada bulu-bulu yang tebal dan tumbuh di daerah ambing, kaki belakang, serta lipatan paha belakang untuk menghindarkan melekatnya kotoran yang tebal.
Tujuan dari pembersihan badan sapi yaitu, a) menjaga kesehatan sapi agar bekteri maupun kuman-kuman tidak berinfeksi dan juga pengaturan suhu badan serta peredaran darah tidak terganggu, b) menjaga produksi susu agar bisa selalu stabil, c) menghindarkan bulu-bulu sapi yang rontok ke dalam air susu yang kita perah (Muljana dalam Adika Putra, 2009).
Selain kebersihan ternak, hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah adalah kondisi kandang yang cocok untuk ternak tersebut. Kandang yang ideal untuk ternak sapi perah harus terdapat saluran pembuangan air, kelembabannya terjaga serta keadaan harus tetap kering.

B.     Pemeliharaan Sapi Perah Masa Kering Sebelum Melahirkan
Masa kering sapi perah mulai dilaksanakan kira-kira delapan minggu sebelum ternak tersebut melahirkan. Pada kondisi ini ternak perlu mendapatkan perhatian yang ekstra agar ternak tetap sehat sehingga  untuk produksi yang akan datang menjadi lebih baik. Tujuan di laksanakannya masa kering pada sapi ternak yang bunting ini adalah untuk mengembalikan kondisi tubuh atau memberi istirahat sapi dan mengisi kembali kebutuhan vitamin serta mineral dan menjamin pertumbuhan foetus di dalam kandang. Menurut Siregar dalam Adika Putra (2009), masa kering sapi perah yang terlalu pendek menyebabkan produksi susu turun. Masa kering sapi perah secara normal adalah 80 hari dan pakan terus dijaga mutunya, terutama 2-3 bulan terakhir sebelum masa kering kandang.
Dalam pelaksanaan masa kering sapi perah dilakukan dengan dua sistem, yaitu secara fisiologis dan secara mekanis. Secara fisiologis dilakukan dengan cara memperhatikan kebutuhan konsumsi pakan serta keadaan kandang yang baik untuk sapi masa kering. Sedangkan secara mekanis adalah adanya variasi pemerahan mulai dari pemerahan secara berselang, pemerahan secara tidak lengkap, dan pemerahan secara tiba-tiba.
1.      Kebutuhan Konsumsi Pakan Sapi Perah Masa Kering
Pada saat sapi perah dalam kondisi  kering, kebutuhan akan konsumsi pakan penting untuk di perhatikan. Hal ini di maksudkan untuk menjaga kesehatan sapi itu sendiri serta untuk menjaga kesehatan kandungan ternak tersebut. Pada kondisi ini komposisi ransum perlu dilakukan perhitungan secara optimal guna untuk meminimalkan problem metabolik pada atau setelah beranak serta untuk meningkatkan produksi susu pada masa laktasi berikutnya.
Secara umum pada konsisi kering ini, ternak diberikan sedikit hijauan dan pengurangan bahkan penghentian pemberian konsentrat pada masa awal kering, sedangkan pada akhir masa kering hijauan diberikan dalam jumlah seperti biasa dan diikuti dengan penambahan konsentrat. Ransum harus diformulasikan untuk memenuhi kebutuhannya yang spesifik: maintenance, pertumbuhan foetus, pertambahan bobot badan.  Panda kondisi ini konsumsi BK ransum harian yang diberikan pada ternak tidak boleh melebihi dari 2% berat badan, konsumsi hijauan minimal 1% berat badan. Setengah dari 1% BB (konsentrat) per hari biasanya cukup untuk program pemberian pakan sapi kering. Pada masa kering, sapi perah harus di tekan jangan sampai terlalu gemuk atau BCS nya melebihi standar untuk sapi bunting (2,5 – 3). Hal ini dimaksudkan agar sapi tersebut tidak ada kendala dalam proses kelahiran nantinya. Komposisi  hijauan kualitas rendah, seperti grass hay, baik diberikan pada kondisi ini dengan tujuan untuk membatasi konsumsi hijauan. Pada kondisi kering kebutuhan protein yang dikonsumsi sapi perah sebesar 12 % sudah cukup untuk menjaga kesehatan ternak tersebut. Kebutuhan Ca dan P sapi kering harus dipenuhi, tetapi perlu dihindari pemberian yang berlebihan; kadang-kadang ransum yang mengandung lebih dari 0,6% Ca dan 0,4% P meningkatkan kejadian milk fever. Trace mineral, termasuk Se, harus disediakan dalam ransum sapi kering. Juga, jumlah vitamin A, D. dan E yang cukup dalam ransum untuk mengurangi kejadian milk fever, mengurangi retained plasenta, dan meningkatkan daya tahan pedet. Sedikit konsentrat perlu diberikan dalam ransum sapi kering dimulai 2 minggu sebelum beranak, bertujuan:
·         Mengubah bakteri rumen dari populasi pencerna hijauan seluruhnya menjadi populasi campuran pencerna hijauan dan konsentrat;
·         Meminimalkan stress terhadap perubahan ransum setelah beranak.
2.      Kebutuhan Kondisi Kandang Sapi Perah Masa Kering
Keberadaan kandang untuk sapi yang akan beranak atau kandang kering kandang sangat penting. Hal ini disebabkan  sapi yang akan beranak memerlukan exercise atau latihan persiapan melahirkan (bisa  berupa jalan-jalan di dalam kandang) untuk merangsang kelahiran normal. Di kandang ini, sapi tidak diperah susunya selama sekitar 80 hari . Dengan demikian, pakan yang di makan hanya untuk kebutuhan anak yang berada didalam kandungannya  dan kebutuhan hidupnya dalam mempersiapkan kelahiran.      Kandang sapi kering dapat dibuat secara koloni  untuk 3 – 4 ekor sapi tanpa disekat  satu sama lain. Ukuran ideal kandang sapi kering per ekor adalah 2-2,5 x 7 x 1 m (lebar 2-2,5 m , panjang 7 m dan tinggi 1 m).  Ukuran tempat pakan sama dengan ukuran tempat pakan di kandang sapi masa produksi , tempat pakan ini bias ditempatkan di tengah kandang. Untuk sapi bunting masa kering kemiringan kandang tidak boleh melebihi dari 50 hal ini bertujuan agar ternak tersebut tidak tergelincir yang bisa menyebabkan gangguan pada janin yang di kandung.
3.      Proses Pengeringan Dengan Cara Pengaturan Pemerahan
Menurut Syarief dan Sumoprastowo (1990) dalam proses pengeringan atau menuju masa kering sapi perah dapat dilakukan dengan cara pengaturan pemerahan, proses pemerahan tersebut dapat di lakukan dengan 3 cara yaitu sebagai berikut :
a)      Pemerahan berselang yaitu  pengeringan yang menggunakan cara sapi hanya diperah sekali sehari selama beberapa hari. Selanjutnya satu hari diperah dan hari berikutnya tidak diperah. Kemudian induk diperah 3 hari sekali hingga akhirnya tidak diperah sama sekali.
b)      Pemerahan tidak lengkap  yaitu pemerahan tetap dilakukan setiap hari, tetapi setiap kali pemerahan tidak sekali puting atau keempat puting itu diperah, jadi keempat puting itu diperah secara bergantian. Setiap kali memerah hanya 2 puting saja, dan hari berikutnya bergantian puting lainnya. Hal ini dilakukan beberapa hari hingga akhirnya tidak diperah sama sekali. Cara ini dilakukan pada sapi yang mempunyai kemampuan produksi tinggi
c)      Pemerahan yang dihentikan secara mendadak yaitu pengeringan ini dilakukan dengan tiba-tiba. Cara pengeringan semacam ini didahului dengan tidak memberikan makanan penguat 3 hari sebelumnya, dan makanan kasar berupa hijauan pun dikurangi tinggal seperempat bagian saja. Cara ini lebih efektif dan memperkecil gangguan kesehatan pada ambing, bila kombinasikan dengan cara pemerahan berselang.
Didalam persiapan laktasi mendatang, yang penting diperhatikan adalah menjaga makanan tetap baik, terutama 2-3 bulan terakhir sebelum masa kering. Periode kering sangat diperlukan bagi sapi perah yang sedang laktasi agar sapi dapat menyimpan energi yang cukup untuk laktasi berikutnya
·         Periode kering yang ideal (6-8) minggu sebelum partus, pengeringan lebih lama akan lebih baik dibandingkan pengeringan yang pendek
·         Periode kering lebih dari 60 hari memberikan produksi susu pada masa laktasi berikutnya realatif kecil, tapi untuk laktasi yang sedang berjalan cukup berpengaruh
·         Pada saat periode pengeringan perlu diberikan perlakuan steaming-up (2-4) minggu sebelum partus untuk persiapan kelahiran.

C.    Pemeliharaan Sapi Perah Masa Kering Setelah Melahirkan
Setelah melahirkan (partus) sapi perah tidak boleh langsung diambil susunya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan kecukupan gizi anak sapi yang baru dilahirkan. Karena pada masa sapi setelah melahirkan, susu yang di produksi berupa colostrum yang berguna bagi anak sapi untuk menambah kekebalan tubuh atau sebagai anti bodi pada pedet yang baru lahir. Colostrum di produksi oleh induk sapi sekitar 7 – 10  hari .
Konsumsi pakan yang di butuhkan pada sapi induk setelah melahirkan dengan kebutuhan hijauan dan konsentrat yang seimbang dan diberikan secara id libitum  sehingga kebutuhan nutrisi yang di butuhkan oleh ternak tersebut dapat terpenuhi. Kebutuhan air minum pada sapi setelah melahirkan akan meningkat dibanding dengan kondisi biasa. Hal ini di karenakan air membantu mencerna makanan yang dikonsumsi oleh ternak tersebut untuk memproduksi susu guna untuk mencukupi kebutuhan gizi pada anak yang baru dilahirkannya. Pada sapi setelah melahirkan kebutuhan mineral dan vitamin juga perlu diperhatikan karena ini akan berpengaruh terhadap kualitas  susu yang di hasilkan.

















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dari pembahasan yang telah di uraikan  di atas maka dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut :
1.      Pengeringan adalah menghentikan pemerahan selama ± 80 hari  menjelang sapi melahirkan kembali pada sapai-sapi yang mengalami periode laktasi kedua dan seterusanya. Periode yang kering, maka yang optimal bila masa istirahat dapat diberikan kepada organ yg mengeluarkan susu dan gizi dalam makanan dan pakan ternak dapat digunakan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan bobot dari sapi dan tepat perkembangan janin bukan produksi susu.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi periode kering bunting pada sapi perah bunting adalah metode pengeringan, kondisi ternak.
3.      Metode/ cara pengeringan dapat dilakukan dengan tiga cara: 1. Pemerahan berselang yaitu pengeringan yang menggunakan cara sapi hanya diperah sekali sehari selama beberapa hari, 2. Pemerahan tidak lengkap yaitu pemerahan tetap dilakukan setiap hari, tetapi setiap kali pemerahan tidak sekali puting atau keempat puting itu diperah, jadi keempat puting itu diperah secara bergantian, dan 3. Pemerahan yang dihentikan secara mendadak yaitu pengeringan ini dilakukan dengan tiba-tiba.





DAFTAR PUSTAKA

Abrianto,W.W.2011.www.duniasapi.com/penanganan sapi perah masa kering/1541-perlakuan-pada-sapi-perah-laktasi.html (di Akses tanggal 19 Desember 2011)
Animous.2011. http://flasher-box.com/news/program-ternak-laktasi/. (diakses tanggal 19 Desember 2011)
---------.2011. http://peternakan.sragenonline.com/2011/01/budidaya-ternak-sapi-perah.html. (di akses tanggal 19 Desember 2011).
Pangudiluhur, Krisna.2010. http://krisnapangudiluhur.blogspot.com/2010/12 /manajemen-pemeliharaan-dan-perawatan.html.(di akses tanggal 19 Desember 2011)







1 komentar:

  1. mantap mas,
    sangat membantu saya dalam memahami peternakan sapi perah,
    terimakasih dan salam kenal ya

    BalasHapus